Kamis, 05 Oktober 2023

Suatu Sisi dalam Hidupmu

 Cerpen Suatu Sisi Dalam Hidupmu

Karya Andriani

 

Siang ini begitu teriknya, matahari bersinar tak ada kompromi, menyengat dan membakar bumi, begitu panasnya. Aku berjalan terseok-seok membawa satu bakul nasi, yang harus masih panas, dua termos air panas dan dua lembar kain lap bersih. Ah, emak, kalau bukan karena perintah emak, aku tak akan maumembawa barang berat ini. Tapi emak, emak yang memerintah! Aku tak mau dibilang anak durhaka. Jadi, yah, siang yang panas ini aku harus mengantar pesanan emak. Emak adalah tulang punggung keluarga, kalau tidak ada emak mungkin aku tidak bisa merasakan nikmatnya sekolah, belajar, berteman dan semua yang menyenangkan. Sedangkan bapak, bapak tidak bisa diandalkan. Setiap hari selalu saja berjudi. Kalau tidak berjudi, ya, tidur molor di rumah. Dia sangat menyebalkan, tapi walaupun menyebalkan dan aku membencinya, dia adalah bapakku. Kasihan emak yang selalu menderita, kadang aku berpikir, coba kalau emak jadi bapak dan bapak jadi emak, mungkin keadaannya akan lebih lumayan.

 

“Aduh...”, tiba-tiba aku menabrak seseorang.

 

Krompyang...krompyang...krompyang, semua bawaanku jatuh berantakan, tapi untung saja bakul nasi sudah kubungkus dan kuikat rapat-rapat, kalau tidak, wah gawat, emak bisa nyanyi nih. Eh, iya, siapa yang kutabrak tadi, ya? Aku mengangkat kepala dan, ya ampun!!! Kerennya, aduh mak, pakai dasi, rapi, necis, waduh-duh! Mesti orang gedongan nih.

 

“Maaf...”, tiba-tiba dia bersuara.

 

Aduh emak, copot jantungku. Waduh, gimana ya, gawat bin gawat nih. Wah, keadaan darurat..., cepat-cepat aku membereskan bawaanku dan cepat-cepat kuayunkan kakiku, baru beberapa langkah...

 

“Eh, nona, permisi, maaf, aku tadi tidak sengaja”, katanya lagi.

 

“Sudahlah, aku yang salah. Maaf ya, permisi”, kataku kemudian dan akupun berjalan tergesa-gesa meninggalkannya.

 

Dari kejauhan dia masih memanggilku, “Nona, nona tunggu!”, tapi aku tak menggubrisnya. Aku malu! Bagaimana tidak? Dandananku amburadul, dan dia necis. Oh, dia, dia memanggilku nona, hi..hi..hi, lucu juga ya. Seumur-umur baru kali ini aku dipanggil nona. Ah, sudahlah, kalau melamun terus bisa-bisa nanti menabrak lagi.

 

Ah, capeknya, dari tadi siang aku harus membantu emak melayani pembeli. Lumayan banyak sih, sopir-sopir bus, sopir truk, penumpang-penumpang bus. Walaupun setiap hari dapat untung banyak, tetapi kalau aku sih, lebih baik tidak dapat uang daripada capek, tapi gimana lagi ya?!

 

Setiap hari kehidupanku selalu begini, pagi sekolah, siang sampai malam membantu emak. Malam hari, setelah membantu emak, aku belajar. Untungnya, aku tidak mempunyai adik maupun kakak, jadi kasih sayang emak selalu terlimpah padaku. Setiap aku datang ke warung emak untuk membantu, emak sembari melayani pembeli, selalu menanyakan bagaiamana keadaanku, tentang sekolahku dan mengenai teman-temanku, dan akupun selalu menjawabnya dengan antusias dan bersemangat, walaupun aku tahu kalau emak kadang memperhatikan kadang pula tidak mendengarkan, tapi aku peduli, karena dengan bercerita pada emak, aku dapat menumpahkan semua isi hatiku.

 

Aku merasa puas, walaupun aku terlahir dari keluarga yang tak mampu, aku tak menyesal. Aku mempunyai emak yang selalu menyayangiku dan selalu mencukupi kebutuhanku walaupun masih kurang. Ah, itu tidak apa-apa. Tapi aku tak mau menceritakan bapak, karena aku memang tak tau apa yang harus diceritakan, lain halnya jika aku menceritakan emakku.

 

Kalau sedang tidak ada pembeli, kadang aku duduk melamun melihat orang-orang yang bermacam-macam bentuk jenisnya berlalu lalang. Dari orang yang berdasi dan bersaku tebal sampai anak kecil yang tak berbaju. Sebenarnya Tuhan itu Maha Adil, diciptakannya bermacam-macam manusia, ada yang kaya, ada yang miskin, yang kaya harus membantu yang miskin, dan yang miskin harus menghormati yang kaya. Ah, benar-benar komplit.

 

Pada suatu sisi, ada orang yang makan dengan lahap segala makanan yang terhidang di hadapannya, di sampingnya duduk seekor anjing kecil, manis, tapi menurutku menjijikkan juga karena lidahnya yang selalu terjulur keluar dan meneteskan air liur. Si wanita yang mempunyai anjing itu makan dengan lahapnya tanpa memperdulikan sekelilingnya dan setelah selesai, ia memberikan makanan yang belum disentuhnya pada anjing tersebut. Di sisi yang lain, ada seorang gelandangan yang mengais makanan di tong-tong sampah, jika mencari sisa-sisa makanan. Bila mendapatkan sisa makanan, tanpa memperdulikan apakah makanan itu layak atau tidak untuk dimakan, disantapnya dengan lahap. Begitu berbedanya suatu keadaan semacam ini.

 

Kadang, aku berpikir jika aku mempunyai kuasa seperti Tuhan, aku akan mengubah semua keadaan ini. Ah, kubayangkan bagaimana jika yang kaya berubah menjadi miskin dan si miskin berubah menjadi kaya, tak bisa kubayangkan jadinya.

 

Adzan Ashar menggema, seiring dengan terdengarnya suara deru mobil di luar, lamunanku menjadi buyar. Ah, kenangan masa lalu dan akupun bangkit serta melihat dari balik gorden jendela. Di luar sana, suamiku bersama anak laki-lakiku yang baru pulang dari les baru turun dari mobil. Suamiku, orang yang kutabrak dulu.

 

Aku tersenyum terkenang masa lalu, betapa indahnya. Dan akupun berjalan menyambut mereka.

 

Emak..., suatu kata yang penuh arti untukku.

Selasa, 03 Oktober 2023

Dampak Merokok bagi Pelajar

 Dampak Merokok bagi Pelajar

 

https://health.grid.id/read/353415945/indonesia-darurat-perokok-anak-pemerintah-didesak-segera-sahkan-revisi-pp-109-tahun-2012?page=all


Sebagai manusia, tentunya kita ingin tubuh kita sehat. Cara untuk mendapatkan hidup sehat adalah dengan tidak mengkonsumsi makanan yang dapat mengganggu kesehatan. Salah satu hal yang menjadi faktor terganggunya kesehatan adalah rokok. Rokok adalah silinder dari kertas yang berisi cacahan tembakau dan mengandung zat kimia. 

Akhir-akhir ini, banyak pelajar SMP dan SMA yang sudah mengkonsumsi rokok dengan bebas. Padahal sejatinya, mereka masih tergolong di bawah umur. Merokok pastinya sangat mempengaruhi kehidupan pelajar. Lalu, apakah dampak dan bagaimana cara mengatasinya?

Saat ini, terdapat 1.100 juta penghisap rokok di dunia. Setiap tahunnya. 4 juta orang meninggal karena rokok. Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 250 juta anak beresiko meninggal apabila tidak segera dicegah untuk merokok.

Di Indonesia sendiri, fenomena pelajar di bawah umur yang merokok juga sudah semakin marak. Hasil dari survei di beberapa SMP menunjukkan sebanyak 40 persen siswa sudah pernah mencoba rokok. Berdasarkan data Yayasan Jantung Indonesia, sebanyak 77 persen dari siswa yang merokok melakukan hal tersebut karena ditawari teman.

Mayoritas siswa beranggapan bahwa dengan merokok, mereka akan terlihat lebih keren dan dewasa. Selain itu, siswa juga beranggapan bahwa dengan merokok, mereka akan lebih mudah mendapatkan teman bergaul. Alasan lain yang membuat siswa merokok adalah menurut mereka, rokok dapat menghilangkan kantuk, suntuk, dan stres.

Padahal, pada dasarnya merokok lebih banyak dampak negatifnya dibanding dengan dampak positifnya. Dampak negatif bagi pelajar adalah menyebabkan prestasi menurun karena siswa akan tidak fokus pada pelajaran. Bau menyengat yang ditimbulkan oleh rokok juga menyebabkan orang lain merasa risih.

Selain itu, zat kimia yang dikandung oleh rokok juga menyebabkan hancurnya organ-organ tubuh. Zat kimia yang dikandung rokok juga menimbulkan berbagai komplikasi pada tubuh seperti kanker, serangan jantung, penyakit paru-paru, penyakit tenggorokan, gangguan pada pita suara, dan lain-lain.

Oleh karena itu, berbagai upaya perlu dilakukan untuk meminimalisir jumlah perokok. Sudah banyak slogan-slogan yang melarang kita untuk merokok. Bahkan semua produk rokok, sekarang sudah tertera bahaya merokok di kemasannya.

Pemerintah juga telah melarang untuk tidak merokok sembarangan, karena asapnya juga menyebabkan polusi. Pemerintah juga telah memasukkan materi bahaya merokok pada kurikulum sekolah dengan slogan ‘Hindarkan dan Jauhkan Sekolah dari Asap Rokok’ di buku pegangan siswa.

Secara umum, merokok hanya menimbulkan kerugian. Banyak orang meninggal dan menderita penyakit kronis karena mengkonsumsi rokok. Oleh karena itu, perlu ditumbuhkan kesadaran bagi pelajar dan masyarakat lainnya terhadap bahaya merokok. Orang tua sangat berperan penting dalam mengawasi pergaulan anak agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Selain itu, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisir jumlah perokok.

 

https://www.ruangguru.com/blog/contoh-teks-tanggapan

Pengaruh Gadget Terhadap Remaja

 Pengaruh Gadget Terhadap Remaja

 


Kemajuan teknologi informasi membuat banyak perubahan, termasuk perkembangan gawai di kalangan remaja. Banyak remaja yang menghabiskan waktunya untuk bermain gawai seperti bermain game dan membuka situs-situs yang dilarang. Hal tersebut pasti dapat membawa dampak dan pengaruh negatif terhadap perkembangan pola pikir dan lingkungan remaja. Selain itu, hal ini juga dapat menurunkan konsentrasi mereka dalam belajar.

Gawai juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan tubuh, karena gawai mengeluarkan banyak radiasi yang secara tidak langsung dapat merusak mata dan saraf otak. Terlebih lagi, remaja tersebut tidak memperhatikan jarak antara mata dan gawai saat mempergunakannya.

Namun, banyak juga sisi positif yang bisa didapatkan oleh remaja jika mereka mempergunakan gawai dengan benar. Remaja bisa lebih mudah mencari informasi mengenai tugas-tugas mereka di sekolah ketika informasi dari buku pelajaran dirasa kurang. Tentunya, hal ini dapat meningkatkan prestasi dan pengetahuan mereka.

Dengan adanya gawai, orangtua juga bisa dengan mudah mengontrol anaknya saat berada di luar rumah. Remaja bisa dengan mudah memberi kabar kepada orangtua jika ada sesuatu yang mendadak. Selain itu, mereka juga bisa menghubungi teman maupun sanak saudara mereka yang lokasinya berjauhan. Canggihnya gawai juga bisa membuat remaja mengetahui perkembangan dunia IPTEK dengan mudah.

Secara umum, saya setuju dengan alasan-alasan yang mendukung penggunaan gawai di lingkungan remaja. Tetapi ada juga dampak negatif yang bisa timbul akibat pemakaian gawai. Jadi, sebaiknya para orang tua tidak memberikan kebebasan dan memberikan batasan tertentu kepada anaknya untuk bermain dan memiliki gawai, karena gawai dapat membawa dampak negatif pada kehidupan remaja.

 

https://www.ruangguru.com/blog/contoh-teks-tanggapan

Gerhana Matahari dan Mitos Kebutaan

Gerhana Matahari dan Mitos Kebutaan

 


https://www.jawapos.com/oto-dan-tekno/01482172/gerhana-matahari-dikaitkan-dengan-lebaran-pakar-jelaskan-faktanya

Berbicara mengenai gerhana matahari, mungkin banyak diantara kita yang bertanya, sebenarnya melihatnya secara langsung bisa menyebabkan buta, itu sebuah mitos atau fakta?

Ketika menanggapi tentang fenomena alam tentunya kita bisa mengetahuinya lewat ilmu sains. Namun sebenarnya gerhana matahari itu?

Gerhana matahari adalah sebuah fenomena dimana posisi bumi, matahari dan bulan sejajar dan berada pada satu garis lurus. Pada saat itu Bulan akan melintas di antara bumi dan matahari, untuk beberapa waktu cahaya matahari ke bumi akan terhalang oleh bayangan Bulan.

Ketika fase total itu terjadi bulan menutupi matahari, korona matahari akan terlihat seperti menjulur dari pinggir bagian yang ditutupi oleh bulan. Lantas apa hubungan fenomena tersebut dengan kebutaan mata?

Menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN, melihat gerhana matahari total secara langsung bisa menyebabkan kebutaan adalah mitos modern.

Yang benar adalah cahaya matahari pada saat gerhana maupun dalam kehidupan sehari-hari sama-sama berbahaya, untuk itu jangan melihat matahari secara langsung sebab dapat merusak mata, lebih tepatnya pada bagian retina.

Kerusakan pada retina yang dimaksud adalah terjadinya solar retinopathy, suatu penyakit pada mata yang gejalanya muncul titik hitam pada setiap kamu memandang, dan penyakit ini akan sulit untuk disembuhkan.

Penyebabnya bisa jadi ketika fase gerhana Matahari total terjadi, suasana menjadi sangat gelap dan pupil mata membesar mencoba untuk menangkap cahaya sebanyak mungkin . Tetapi ketika fase total berakhir dan bulan mulai bergeser, cahaya matahari akan terang kembali, perpindahan dari gelap menjadi terang itulah yang sangat berbahaya.

Melihat dari faktor yang sudah diuraikan tersebut, pertanyaan melihat gerhana matahari bisa menyebabkan kebutaan adalah mitos modern. Faktanya sinar matahari sangat berbahaya jika kita melihatnya secara langsung, baik ketika gerhana atau dalam kehidupan sehari-hari.

 

 https://www.gramedia.com/literasi/teks-tanggapan/


Budaya Populer Korea (Teks Tanggapan Kelas 9)

 

Budaya Populer Korea

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20230303140717-234-920376/bang-si-hyuk-beberkan-soal-wamil-dan-pertumbuhan-karier-bts 

Budaya populer adalah berbagai karya yang dapat dengan mudah menyebar dan disukai oleh siapa saja dengan mudah. Terutama di kalangan remaja dan masyarakat yang lebih muda pada umumnya. Contohnya budaya populer adalah bagaimana lagu, serial, dan Film Korea menyerbu masyarakat Indonesia lewat ketampanan dan kecantikan khas negeri ginseng dikemas dalam drama romantis yang jenaka namun tetap menyentuh hati.

Tentunya mendapatkan hiburan dalam bentuk baru dari negeri seberang itu sah-sah saja dan justru dapat bermanfaat bagi kita pula. Entah itu melalui pengetahuan mengenai budaya luar, maupun dari sifat hiburannya saja yang seakan memberikan terapi untuk menghilangkan stress. Namun yang disayangkan adalah bagaimana bangsa kita seakan lebih tertarik pada kebudayaan tersebut.

Bagaimana tidak, banyak yang sedari kecil tertarik terhadap kebudayaan Korea karena mereka telah mengonsumsi budaya populer dari negeri ginseng tersebut. Bahkan beberapa di antaranya mampu menguasai bahasa Korea yang tidak mudah untuk dipelajari tersebut.

Lagi-lagi hal tersebut membuktikan bahwa manfaat yang didapatkan oleh masyarakat juga sangat besar. Akan tetapi, alangkah baiknya jika kita juga dapat mengapresiasi kebudayaan sendiri yang sangat kaya dan beragam. Bahkan banyak orang-orang di luar sana yang tertarik terhadap budaya Indonesia yang elok ini.

Namun kita tidak dapat menyalahkan bangsa asing yang mampu merenggut hati masyarakat kita pula. Mungkin salah satu kekurangan negeri ini, baik dari pemerintah, para pelaku dunia hiburan, dan kita  sendiri yang harus bercermin sejenak untuk memikirkan katakanlah “kegagalan” ini.

  

https://serupa.id/contoh-teks-tanggapan-beserta-strukturnya-kritispujianbudaya-dsb/

Sampah Plastik (Teks Tanggapan Kelas 9)

 Sampah Plastik yang Memprihatinkan

 https://images.app.goo.gl/7iAZE2XByVMe3puL6 

Sampah merupakan produk yang mau tidak mau akan terus tercipta di roda kehidupan masyarakat modern. Keberadaannya akan terus menghampiri terutama di wilayah-wilayah yang sudah dijangkau oleh industri besar yang membuat produk kemasan yang akan meninggalkan residu tak terpakai; sampah. Salah satu bentuk sampah yang paling memprihatinkan adalah sampah kemasan semacam itu, karena biasanya terbuat dari plastik yang tidak dapat terurai oleh tanah.

Sampah semacam itu pada akhirnya akan menggenangi lingkungan kita sendiri. Baik secara harfiah maupun secara kiasan. Maksudnya, sampah tersebut akan tercecer di mana saja karena tidak dapat terurai oleh tanah. Kemudian pada akhirnya akan berakhir di sungai yang pergerakannya terhambat dan akhirnya membanjiri rumah kita juga.

Ya, dampaknya dua kali lipat dari apa yang kita bayangkan. Sampah akan merusak lingkungan tempat kita semua hidup. Selain itu sampah yang dibiarkan begitu saja juga akan mengganggu kesehatan masyarakat di sekitarnya. Karena sampah adalah salah satu sarang terbesar untuk kuman, bakteri, dan bahkan virus yang berbahaya.

Berlanjut dari sungai, sampah tersebut akan berakhir di laut dan mengganggu ketentraman ekosistem di sekitarnya. Makhluk hayati akan ikut merasakan dampak negatifnya. Salah satu contoh yang paling miris adalah bagaimana sedotan plastik ditemukan menusuk ke dalam hidung penyu yang sedang berenang bebas di alam.

Kerusakan ekosistem satwa dan fauna di dunia akan berdampak pada kehidupan kita sebagai manusia pula. Padahal kita adalah garda terdepan alam, kita yang mampu memahami bagaimana mengatasi hal ini. Meskipun, sebetulnya kita pula yang menyebabkannya.

Menimbang permasalahan tersebut, rasanya sudah menjadi kewajiban kita sebagai pelaku perusak alam lewat sampah untuk terus berusaha menanganinya. Kurang penggunaan plastik, buang sampah pada tempatnya, daur ulang sampah yang dapat dimanfaatkan kembali seperti plastik dan kaleng bekas. Kita tidak dapat membiarkan hal ini merusak generasi penerus bangsa.


https://serupa.id/contoh-teks-tanggapan-beserta-strukturnya-kritispujianbudaya-dsb/

Penanganan Covid19 (Teks Tanggapan Kelas 9)

Tanggapan Penanganan Pandemi Covid-19 di Indonesia

Pandemi Covid-19 tengah menghantui seluruh negeri bahkan dunia. Bahaya terbesar dari virus ini adalah penyebarannya yang sangat cepat dan eksponensial atau berlipatganda. Namun dibalik bahaya kesehatan tampaknya terdapat bahaya lain yang tersemat di dalamnya. Pandemi ini mengoyak-ngoyak persatuan bangsa.

Bagaimana tidak, rasanya setiap kebijakan pemerintah daerah dan pusat saja sulit sekali untuk menemukan titik tengah yang dapat disepakati untuk membasmi wabah ini dengan efisien. Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, mengapa tampaknya banyak pihak yang justru malah saling menyalahkan. Contohnya adalah bagaimana ketika  sebagian kecil menteri mengkritik kebijakan gubernur Jakarta, Anies Baswedan yang berencana untuk mengadakan PSBB yang ketat lagi di wilayah DKI Jakarta.

Padahal, saya kira pertimbangan beliau masuk akal. Perhitungannya berdasarkan sisa jumlah kapasitas rumah sakit yang tersedia untuk menangani pasien Covid-19.  Jika tidak dilakukan PSBB ketat, maka kapasitas tersebut akan habis dalam waktu kurang dari tiga bulan saja. Namun sebagian kecil menteri tersebut mengatakan bahwa kita masih memiliki kapasitas kesehatan yang cukup.

Alasannya adalah DKI Jakarta dapat “meminjam” fasilitas kesehatan di daerah lain seperti di Provinsi Jawa Barat. Tapi bukankah itu tidak menyelesaikan masalah dan justru berpotensi menjadi masalah baru?  Bagaimana kalau justru hal tersebut menambah potensi pergerakan penyebaran pandemi? Selain itu, saya pikir sedari awal Pak Presiden sudah menginstruksikan bahwa PSBB ketat harus dilakukan jika memang dibutuhkan. Menurut saya, statistik yang diutarakan oleh Pak Anies sudah menunjukkan bahwa Jakarta membutuhkannya.

Bukan bermaksud untuk menyalahkan pemerintah pusat, buktinya sebagian pemerintah daerah juga malah membuat “keonaran” pada kondisi yang genting seperti ini. Diketahui salah satu wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah malah menggelar dangdutan dalam iklim pandemi yang tidak menentu ini. Selain itu, rasanya sebagian masyarakat juga masih benar-benar mampu mengikuti protokol kesehatan yang telah diterapkan. Awak media juga seakan gemar memberitakan hal yang menyudutkan kesalahan suatu pihak dalam penanganan Covid-19.

Pada akhirnya, jika kita terus menyalahkan salah satu pihak maka semua juga akan menjadi salah, akan ketahuan belangnya. Inti dari tanggapan saya mengenai kondisi ini adalah hal tersebut. Di tengah pandemi yang melanda ini seharusnya kita berhenti saling menyalahkan dan justru seharusnya bergotong-royong saling membantu untuk menangani melalui kebersamaan. Kebersamaan untuk kebaikan bersama pula.

 

Sumber: https://serupa.id/contoh-teks-tanggapan-beserta-strukturnya-kritispujianbudaya-dsb/  


 



Jumat, 29 September 2023

NAELA (Tidurlah Naela, Esok Kita Abadi)

Nalea

Karya Sungging Raga

Tidurlah Nalea. Esok kita abadi.

***

GADIS kecil itu memucat, bibirnya membiru karena dingin. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan kota ini.

"Ini, pakai jaket," kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat. "Sepertinya kamu masuk angin." Mereka sedang berteduh di etalase toko. Kemilau basah lampu-lampu jalan, papan reklame, juga sorot mobil dan motor, semua adalah cahaya yang menyelingi udara dingin di sekujur kota.

Nalea masih berbaring di pangkuan lelaki itu. Ia berkeringat, membuat helai rambutnya menempel di kening. Napasnya berat, dan matanya setengah terpejam. Lelaki itu tak bisa membayangkan perasaan anak gadisnya setelah segala kejadian yang mereka alami: Kios sederhana mereka diangkut petugas penertiban siang tadi.

Siang itu, Nalea sedang duduk di pinggiran taman kota. Seperti biasa, ia berkumpul dengan bocah sebayanya yang berpakaian lusuh. Adakah yang lebih menyenangkan melihat beberapa anak kecil tertawa riang, yang bahkan giginya belum lengkap, tapi tetap bisa merasa bahagia meskipun kehidupan ini sesungguhnya teramat keras? Namun begitulah kebahagiaan mereka mendadak berhenti ketika mendengar suara keributan tak jauh di arah belakang. Tampak beberapa petugas berseragam turun dari mobil. Rupanya

hari itu ada penertiban preman, pengamen, dan pedagang asongan.

"Weh, ada satpol!"

Beberapa pengamen yang berusia remaja sudah lebih dulu melesat di gang-gang pertokoan. Ada yang bersembunyi di warung makan, di warung internet, sampai di toko pakaian. Sebagian petugas mengejar anak-anak itu, sebagian lagi menertibkan barang dagangan yang ditinggalkan begitu saja. Perempuan-perempuan pengemis lari sambil menggendong bayi entah milik siapa, begitu pula peminta-minta yang awalnya berjalan terseok-seok tiba-tiba seperti mendapat mukjizat untuk lari menghindari kejaran petugas.

Nalea segera teringat kios ayahnya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari situ. Ia pun langsung berlari, menyeberang jalan, mengejutkan beberapa pengendara mobil yang lantas membunyikan klakson berkali-kali.

"Woi! Sial anak kecil liar! Mampus saja!"

Nalea terus berlari. Ia melewati pedagang soto, pejalan kaki, tukang becak, tukang ojek yang sedang sibuk dengan gadget, dan orang-orang lain yang tak ada hubungannya dengan cerita ini. Namun ada dua orang petugas yang terus mengejarnya. Gadis itu pun sampai di sebuah kios kecil. Ia membuka pintu samping kios, membangunkan seorang lelaki yang tengah tidur berbalut sarung.

"Ayah! Ayah! Aku dikejar satpol."

"Ha?" dalam keadaan setengah sadar, lelaki itu lantas meminta Nalea masuk. Namun hanya berselang beberapa detik sampai dua petugas itu menemukanya.

"Oh, jadi curut kecil ini tinggalnya di sini," salah seorang petugas berkata, lalu mengambil HT, "Mobil bawa ke sini, dua ratus meter arah barat. Ada kios yang harus diangkut."

Dalam keadaan masih tampak pusing, ayah Nalea mengajak anaknya segera membereskan beberapa barang seperti buntalan baju, radio, dan tas. Mereka harus buru-buru pergi jika tidak ingin dibawa ke panti sosial.

"Lho, hei mau kemana?"

Lelaki itu menggendong Nalea dan segera menyelinap di pagar. Maka keduanya pergi, ambil sesekali menoleh pada petugas yang sibuk merobohkan kios semi-permanen itu...

***

Nalea dan ayahnya lalu berjalan di pinggiran sungai. Setelah cukup lama, mereka duduk di sebuah taman yang baru diresmikan oleh walikota pekan lalu.

"Ayah, kapan mau ambil kios kita lagi?"

"Tidak bisa, Nalea. Kita sudah beruntung tidak ikut dibawa."

Gadis itu teringat beberapa temannya yang menangis minta tolong, tapi tetap diseret juga ke atas mobil bak terbuka. Belum lagi kalau melawan. Ia teringat Salem, bocah lelaki yang selalu membuatnya tertawa karena suka bertingkah layaknya orang kaya, yang dengan tingkahnya itu justru membuatnya terlihat makin menyedihkan. Ketika hari penertiban, bocah itu diseret dan ditelanjangi karena meronta dan menendang selangkangan salah satu petugas.

Bayangan itu sesungguhnya bukan hal baru bagi Nalea. Ini hanya bagian lain dari hari-hari yang biasa. Di taman, sekarang mereka makan jagung rebus, melihat orang-orang berlalu-lalang, sepasang anak muda bergandengan tangan, penjual balon mendekati anak-anak kecil, pedagang rokok berbincang dengan pedagang minuman, termasuk juga perempuan-perempuan yang baru pulang kerja.

"Ayah, perempuan yang itu cantik, ya." Nalea menunjuk seorang wanita dengan blazer merah yang sedang berjalan sambil menelepon. Lelaki itu tersenyum. "Kamu ada-ada saja."

"Apa dulu ibu juga cantik?"

"Ha-ha-ha. Ibumu... Lebih cantik! Lihat, ia melahirkan anak semanis kamu." Nalea tersenyum. Sebenarnya, lelaki itu sudah lama ingin bercerita, bahwa ia bukan ayahnya. Dahulu, ketika sedang memulung barang bekas, ia melihat seorang wanita turun dari mobil, meletakkan kardus di bawah sudut jembatan layang, kemudian kembali ke mobil dan pergi. Ketika didekati, didapatinya di dalam kardus itu seorang bayi. Saat itulah, lelaki itu merasa iba, lalu merawatnya. Ia memberi nama Nalea, nama yang ditemukannya dalam sebuah cerita pendek di koran lama. Nalea kemudian tumbuh dalam tumpukan sampah, terkadang lelaki itu heran bagaimana bayi itu bisa bertahan hidup. Ketika usia Nalea satu tahun, beberapa pengemis wanita sering menyewanya untuk digendong mengemis seharian. Dan ketika sudah bisa berjalan, Nalea ikut memulung sampah, ia mulai mengenali mana yang berharga dan yang tidak. Sekarang ia lebih suka menjadi pedagang asongan.

"Kita hanya harus menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya," kata lelaki itu ketika Nalea berumur enam tahun. Pernah pada masa kampanye walikota, selama setengah tahun tidak ada penggusuran karena berganti poster foto calon wali kota, kehidupan Nalea dan ayahnya berada di titik terbaik: Mereka punya kios, sambungan listrik ilegal, dan televisi. Nalea suka menonton kartun pagi hari sebelum pergi berjualan di lampu merah. Sementara ayahnya terus menjaga kios, ia telah berhenti memulung dan berganti berjualan rokok.

Namun apakah yang bisa ditawarkan televisi kepada mereka? Selain acara pernikahan selebritis, televisi hanya menayangkan sosok inspiratif, pengusaha muda yang sukses, keberhasilan penelitian, orang miskin yang kuliah di luar negeri. Semua itu demi sebuah optimisme, tidak peduli bahwa lebih banyak yang gagal dalam hidup ini. Sementara kemiskinan hanya menjadi objek dalam acara realita sosial. Sudah miskin, diuji pula apakah jujur dengan kemiskinannya.

Televisi itu telah lama rusak. Dan kios itu pun kini sudah diangkut. Matahari makin rendah di barat. Lelaki itu kembali berjalan, kali ini Nalea digendongnya. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa ditindih batuan gunung, tapi lelaki itu bertahan. Hingga ketika hari pun gelap, mereka mulai mencari tempat untuk beristirahat. Namun mereka harus menunggu sampai toko-toko tutup agar bisa beristirahat di emperannya.

Awalnya mereka sempat ingin mencari kolong jembatan, bantaran sungai, atau pinggir rel, tapi semua tempat itu seakan sudah penuh oleh orang-orang bernasib serupa. Akhirnya mereka melihat emperan toko alat-alat musik yang sepi dan cukup bersih. Lelaki itu terlihat makin menggigil. Ia menghamparkan alas dari koran.

"Ayo pulang, Yah."

"Pulang ke mana? Kita tidak pernah punya rumah... Tidurlah dulu, besok kita beli obat biar demammu turun."

Gadis kecil itu memeluk ayahnya. "Lho, badan Ayah juga panas?"

Namun lelaki itu tetap menyelimutinya. Ia merogoh sakunya, tentu saja kosong. Bagaimana agar bisa beli obat? Namun ia merasa tenaganya pun telah habis, setidaknya untuk hari ini. "Besok saja kupikirkan," gumamnya. Malam pun lantas menidurkan keduanya, seperti nina bobo paling sunyi, dalam mimpi sisa kebisingan kota, dalam dingin sisa hujan yang seakan tanpa jeda.

***

Pagi harinya, suasana berangsur ramai. Kesibukan yang sama nyaris setiap hari, angkot berhenti menaik-turunkan penumpang. Suara klakson. Asap knalpot kembali memenuhi udara. Orang-orang terburu-buru, wanita mengenakan masker, berjalan sambil menelepon. Pedagang koran meneriakkan berita utama. Bus kota penuh dengan wajah-wajah membisu.

Suara langkah-langkah kaki membuat Nalea terjaga, ia menyingkap selimut, dan mengusap matanya. Di dekatnya begitu banyak langkah kaki, begitu banyak manusia yang tak ia kenal, tapi melihat kepadanya.

"Ayah, Ayah..."

Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, orang-orang yang kebetulan melintas akan menoleh kepadanya sesaat, lalu lewat begitu saja. Sebab begitu banyak jadwal, begitu padat rutinitas. Begitu berharga satu helaan napas.

"Aku mau minum."

Gadis kecil itu menepuk-nepuk pipi ayahnya. Tapi tak ada gerakan.

"Ayah?"


Kredit : Rahmi, Yulianti. 2020. Modul Bahasa Indonesia Unit 7 Teks Cerita Pendek. Jakarta: Direktorat GTK Madrasah

Pengarang Cerita Pendek adalah Sungging Raga

DUA WAJAH IBU Karya Guntur Alam

Dua Wajah Ibu

Karya Guntur Alam


Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.

”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.

”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.

”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti radio tua itu terputus.

Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.

***

Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati.

Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.

Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.

Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.

”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.

”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.

”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.

Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.

Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.

Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.

***

Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan.

Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.

Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat.

Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.


kredit : repost dari https://cerpenkompas.wordpress.com/2012/08/05/dua-wajah-ibu/ 

pengarang : Guntur Alam

Rabu, 08 Februari 2023

Cerita Inspiratif "Kehebatan Rp 10.000"

                                                                Kehebatan Rp 10.000

 

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, ”Beri kami sedekah, Bu!” Istri Budiman membuka dompetnya, lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, ”Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah  untuk bisa membeli makanan!” Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, ”Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah  untukmu!” Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli camilan. Pada kesempatan yang sama, Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, Budiman ingin mengecek saldo rekening dia. Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol informasi saldo. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat

Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening. Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, tetapi kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu kemudian ia lipat kecil untuk diberikan kepada wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah. Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: ”Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang saleh dan salehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat  kelak nanti di surga...!” Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, ”Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!” Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. ”Ada apa, Pak?” Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan, ”Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!”

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada Wanita pengemis. Namun, Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya. ”Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak, dan keluarga kita. Panjang sekali ia berdoa! Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt. sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal, aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterima kasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu, tetapi sedikitpun aku tak berucap hamdalah.”

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

 

Sumber:http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/10-ribu-rupiah-membuat-anda-mengerti.html

Suatu Sisi dalam Hidupmu

  Cerpen Suatu Sisi Dalam Hidupmu Karya Andriani   Siang ini begitu teriknya, matahari bersinar tak ada kompromi, menyengat dan membak...