Jumat, 29 September 2023

NAELA (Tidurlah Naela, Esok Kita Abadi)

Nalea

Karya Sungging Raga

Tidurlah Nalea. Esok kita abadi.

***

GADIS kecil itu memucat, bibirnya membiru karena dingin. Hujan belum juga reda sejak sore tadi. Jalanan basah dan sebagiannya menampakkan genangan pekat seperti menandakan begitu kelamnya kehidupan kota ini.

"Ini, pakai jaket," kata ayahnya. Lelaki itu menyentuh kening Nalea, dan memang terasa hangat. "Sepertinya kamu masuk angin." Mereka sedang berteduh di etalase toko. Kemilau basah lampu-lampu jalan, papan reklame, juga sorot mobil dan motor, semua adalah cahaya yang menyelingi udara dingin di sekujur kota.

Nalea masih berbaring di pangkuan lelaki itu. Ia berkeringat, membuat helai rambutnya menempel di kening. Napasnya berat, dan matanya setengah terpejam. Lelaki itu tak bisa membayangkan perasaan anak gadisnya setelah segala kejadian yang mereka alami: Kios sederhana mereka diangkut petugas penertiban siang tadi.

Siang itu, Nalea sedang duduk di pinggiran taman kota. Seperti biasa, ia berkumpul dengan bocah sebayanya yang berpakaian lusuh. Adakah yang lebih menyenangkan melihat beberapa anak kecil tertawa riang, yang bahkan giginya belum lengkap, tapi tetap bisa merasa bahagia meskipun kehidupan ini sesungguhnya teramat keras? Namun begitulah kebahagiaan mereka mendadak berhenti ketika mendengar suara keributan tak jauh di arah belakang. Tampak beberapa petugas berseragam turun dari mobil. Rupanya

hari itu ada penertiban preman, pengamen, dan pedagang asongan.

"Weh, ada satpol!"

Beberapa pengamen yang berusia remaja sudah lebih dulu melesat di gang-gang pertokoan. Ada yang bersembunyi di warung makan, di warung internet, sampai di toko pakaian. Sebagian petugas mengejar anak-anak itu, sebagian lagi menertibkan barang dagangan yang ditinggalkan begitu saja. Perempuan-perempuan pengemis lari sambil menggendong bayi entah milik siapa, begitu pula peminta-minta yang awalnya berjalan terseok-seok tiba-tiba seperti mendapat mukjizat untuk lari menghindari kejaran petugas.

Nalea segera teringat kios ayahnya yang berjarak sekitar dua ratus meter dari situ. Ia pun langsung berlari, menyeberang jalan, mengejutkan beberapa pengendara mobil yang lantas membunyikan klakson berkali-kali.

"Woi! Sial anak kecil liar! Mampus saja!"

Nalea terus berlari. Ia melewati pedagang soto, pejalan kaki, tukang becak, tukang ojek yang sedang sibuk dengan gadget, dan orang-orang lain yang tak ada hubungannya dengan cerita ini. Namun ada dua orang petugas yang terus mengejarnya. Gadis itu pun sampai di sebuah kios kecil. Ia membuka pintu samping kios, membangunkan seorang lelaki yang tengah tidur berbalut sarung.

"Ayah! Ayah! Aku dikejar satpol."

"Ha?" dalam keadaan setengah sadar, lelaki itu lantas meminta Nalea masuk. Namun hanya berselang beberapa detik sampai dua petugas itu menemukanya.

"Oh, jadi curut kecil ini tinggalnya di sini," salah seorang petugas berkata, lalu mengambil HT, "Mobil bawa ke sini, dua ratus meter arah barat. Ada kios yang harus diangkut."

Dalam keadaan masih tampak pusing, ayah Nalea mengajak anaknya segera membereskan beberapa barang seperti buntalan baju, radio, dan tas. Mereka harus buru-buru pergi jika tidak ingin dibawa ke panti sosial.

"Lho, hei mau kemana?"

Lelaki itu menggendong Nalea dan segera menyelinap di pagar. Maka keduanya pergi, ambil sesekali menoleh pada petugas yang sibuk merobohkan kios semi-permanen itu...

***

Nalea dan ayahnya lalu berjalan di pinggiran sungai. Setelah cukup lama, mereka duduk di sebuah taman yang baru diresmikan oleh walikota pekan lalu.

"Ayah, kapan mau ambil kios kita lagi?"

"Tidak bisa, Nalea. Kita sudah beruntung tidak ikut dibawa."

Gadis itu teringat beberapa temannya yang menangis minta tolong, tapi tetap diseret juga ke atas mobil bak terbuka. Belum lagi kalau melawan. Ia teringat Salem, bocah lelaki yang selalu membuatnya tertawa karena suka bertingkah layaknya orang kaya, yang dengan tingkahnya itu justru membuatnya terlihat makin menyedihkan. Ketika hari penertiban, bocah itu diseret dan ditelanjangi karena meronta dan menendang selangkangan salah satu petugas.

Bayangan itu sesungguhnya bukan hal baru bagi Nalea. Ini hanya bagian lain dari hari-hari yang biasa. Di taman, sekarang mereka makan jagung rebus, melihat orang-orang berlalu-lalang, sepasang anak muda bergandengan tangan, penjual balon mendekati anak-anak kecil, pedagang rokok berbincang dengan pedagang minuman, termasuk juga perempuan-perempuan yang baru pulang kerja.

"Ayah, perempuan yang itu cantik, ya." Nalea menunjuk seorang wanita dengan blazer merah yang sedang berjalan sambil menelepon. Lelaki itu tersenyum. "Kamu ada-ada saja."

"Apa dulu ibu juga cantik?"

"Ha-ha-ha. Ibumu... Lebih cantik! Lihat, ia melahirkan anak semanis kamu." Nalea tersenyum. Sebenarnya, lelaki itu sudah lama ingin bercerita, bahwa ia bukan ayahnya. Dahulu, ketika sedang memulung barang bekas, ia melihat seorang wanita turun dari mobil, meletakkan kardus di bawah sudut jembatan layang, kemudian kembali ke mobil dan pergi. Ketika didekati, didapatinya di dalam kardus itu seorang bayi. Saat itulah, lelaki itu merasa iba, lalu merawatnya. Ia memberi nama Nalea, nama yang ditemukannya dalam sebuah cerita pendek di koran lama. Nalea kemudian tumbuh dalam tumpukan sampah, terkadang lelaki itu heran bagaimana bayi itu bisa bertahan hidup. Ketika usia Nalea satu tahun, beberapa pengemis wanita sering menyewanya untuk digendong mengemis seharian. Dan ketika sudah bisa berjalan, Nalea ikut memulung sampah, ia mulai mengenali mana yang berharga dan yang tidak. Sekarang ia lebih suka menjadi pedagang asongan.

"Kita hanya harus menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya," kata lelaki itu ketika Nalea berumur enam tahun. Pernah pada masa kampanye walikota, selama setengah tahun tidak ada penggusuran karena berganti poster foto calon wali kota, kehidupan Nalea dan ayahnya berada di titik terbaik: Mereka punya kios, sambungan listrik ilegal, dan televisi. Nalea suka menonton kartun pagi hari sebelum pergi berjualan di lampu merah. Sementara ayahnya terus menjaga kios, ia telah berhenti memulung dan berganti berjualan rokok.

Namun apakah yang bisa ditawarkan televisi kepada mereka? Selain acara pernikahan selebritis, televisi hanya menayangkan sosok inspiratif, pengusaha muda yang sukses, keberhasilan penelitian, orang miskin yang kuliah di luar negeri. Semua itu demi sebuah optimisme, tidak peduli bahwa lebih banyak yang gagal dalam hidup ini. Sementara kemiskinan hanya menjadi objek dalam acara realita sosial. Sudah miskin, diuji pula apakah jujur dengan kemiskinannya.

Televisi itu telah lama rusak. Dan kios itu pun kini sudah diangkut. Matahari makin rendah di barat. Lelaki itu kembali berjalan, kali ini Nalea digendongnya. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa ditindih batuan gunung, tapi lelaki itu bertahan. Hingga ketika hari pun gelap, mereka mulai mencari tempat untuk beristirahat. Namun mereka harus menunggu sampai toko-toko tutup agar bisa beristirahat di emperannya.

Awalnya mereka sempat ingin mencari kolong jembatan, bantaran sungai, atau pinggir rel, tapi semua tempat itu seakan sudah penuh oleh orang-orang bernasib serupa. Akhirnya mereka melihat emperan toko alat-alat musik yang sepi dan cukup bersih. Lelaki itu terlihat makin menggigil. Ia menghamparkan alas dari koran.

"Ayo pulang, Yah."

"Pulang ke mana? Kita tidak pernah punya rumah... Tidurlah dulu, besok kita beli obat biar demammu turun."

Gadis kecil itu memeluk ayahnya. "Lho, badan Ayah juga panas?"

Namun lelaki itu tetap menyelimutinya. Ia merogoh sakunya, tentu saja kosong. Bagaimana agar bisa beli obat? Namun ia merasa tenaganya pun telah habis, setidaknya untuk hari ini. "Besok saja kupikirkan," gumamnya. Malam pun lantas menidurkan keduanya, seperti nina bobo paling sunyi, dalam mimpi sisa kebisingan kota, dalam dingin sisa hujan yang seakan tanpa jeda.

***

Pagi harinya, suasana berangsur ramai. Kesibukan yang sama nyaris setiap hari, angkot berhenti menaik-turunkan penumpang. Suara klakson. Asap knalpot kembali memenuhi udara. Orang-orang terburu-buru, wanita mengenakan masker, berjalan sambil menelepon. Pedagang koran meneriakkan berita utama. Bus kota penuh dengan wajah-wajah membisu.

Suara langkah-langkah kaki membuat Nalea terjaga, ia menyingkap selimut, dan mengusap matanya. Di dekatnya begitu banyak langkah kaki, begitu banyak manusia yang tak ia kenal, tapi melihat kepadanya.

"Ayah, Ayah..."

Gadis kecil itu menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya, orang-orang yang kebetulan melintas akan menoleh kepadanya sesaat, lalu lewat begitu saja. Sebab begitu banyak jadwal, begitu padat rutinitas. Begitu berharga satu helaan napas.

"Aku mau minum."

Gadis kecil itu menepuk-nepuk pipi ayahnya. Tapi tak ada gerakan.

"Ayah?"


Kredit : Rahmi, Yulianti. 2020. Modul Bahasa Indonesia Unit 7 Teks Cerita Pendek. Jakarta: Direktorat GTK Madrasah

Pengarang Cerita Pendek adalah Sungging Raga

DUA WAJAH IBU Karya Guntur Alam

Dua Wajah Ibu

Karya Guntur Alam


Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.

Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.

Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya.

Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan.

”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya.

”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya.

”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti radio tua itu terputus.

Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya.

***

Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati.

Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi.

Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu.

Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya.

”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban.

”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman.

”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap.

Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja.

Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis.

Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang.

***

Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan.

Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya.

Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat.

Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.


kredit : repost dari https://cerpenkompas.wordpress.com/2012/08/05/dua-wajah-ibu/ 

pengarang : Guntur Alam

Suatu Sisi dalam Hidupmu

  Cerpen Suatu Sisi Dalam Hidupmu Karya Andriani   Siang ini begitu teriknya, matahari bersinar tak ada kompromi, menyengat dan membak...