Rabu, 08 Februari 2023

Cerita Inspiratif "Kehebatan Rp 10.000"

                                                                Kehebatan Rp 10.000

 

Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, ”Beri kami sedekah, Bu!” Istri Budiman membuka dompetnya, lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, ”Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah  untuk bisa membeli makanan!” Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, ”Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah  untukmu!” Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli camilan. Pada kesempatan yang sama, Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, Budiman ingin mengecek saldo rekening dia. Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol informasi saldo. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat

Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening. Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, tetapi kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu kemudian ia lipat kecil untuk diberikan kepada wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah. Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: ”Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang saleh dan salehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat  kelak nanti di surga...!” Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, ”Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!” Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. ”Ada apa, Pak?” Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan, ”Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!”

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada Wanita pengemis. Namun, Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya. ”Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak, dan keluarga kita. Panjang sekali ia berdoa! Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt. sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal, aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterima kasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu, tetapi sedikitpun aku tak berucap hamdalah.”

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu

 

Sumber:http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/10-ribu-rupiah-membuat-anda-mengerti.html

Cerita Inspiratif "Bunga untuk Ibu"

Bunga untuk Ibu

 

 

Kios bunga Pak Tono sedang kebanjiran pesanan. Ia sedang sibuk memindahkan ratusan karangan bunga ke atas mobil kol baknya. Ditengah kesibukannya, seorang perempuan muda tiba-tiba menghampirinya, dan berkata “Pak, kalau harga karangan bunga yang kecil itu berapa?” Pak Tono menghiraukannya untuk beberapa saat, kemudian menjawab “Lima puluh ribu, Neng.” Jawabnya. “Maaf, Pak. Apakah ada yang tiga puluh ribu saja?” Balas perempuan itu. Kali ini Pak Tono menatap wajah perempuan itu. Tampaknya perempuan itu baru berumur belasan tahun dan mungkin baru menginjak bangku SMP. Hanya saja tinggi badannya sempat mengelabui Pak Tono. Penjual bunga itu lantas balik bertanya, “Untuk siapa bunganya, Neng? Bunganya boleh diambil dengan tiga puluh ribu saja,” jawabnya sambil tersenyum. “Terima kasih, Pak. Ini untuk Ibu saya.”  “Neng ke sini jalan kaki? Pulangnya kemana?” “Ke arah Sukamulya, Pak.” Jawab gadis itu. “Saya juga kebetulan menuju ke arah sana, kalau mau sekalian saya antar saja.” Awalnya, perempuan itu tampak ragu, namun akhirnya menerima tawaran Pak Tono.

Pak Tono lantas berangkat bersama dengan perempuan muda yang membeli satu karangan bunga tersebut. “Neng, nanti bilang aja berhentinya di mana ya.” “Iya, Pak. Sebentar lagi juga sampai.” Tak lama, dari kejauhan Pak Tono melihat kerumunan di dekat gapura pemakaman umum. “Inalillahi, sepertinya ada yang sedang dimakamkan, Neng.” ucap Pak Tono sambil memelankan laju kendaraannya.

Perempuan itu tidak menggubrisnya dan malah meminta pak Tono untuk menghentikan mobilnya. “Saya turun di depan, ya Pak.” Pak Tono kemudian menepikan mobilnya tepat di depan gapura pemakaman umum yang telah ia lihat dari kejauhan. Perempuan itu lalu turun dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Tono dengan senyum yang menutupi air matanya. Pak Tono terdiam sejenak sambil melihat perempuan itu memasuki gerbang pemakaman.

Lantas Pak Tono memutar balik mobilnya dan menancap gas sekencang-kencangnya. Ia sudah tidak mempedulikan pesanan bunga yang harus diantarkannya. Pikiran dia saat ini hanya tertuju pada rumah orangtua yang berjarak cukup jauh dari kota itu.

Sudah hampir dua tahun lebih Pak Tono belum sempat pulang untuk menjenguk ibunya. Melihat peristiwa tadi, ia sadar betapa beruntung dia karena ibunya masih diberi kesehatan dan masih mampu menginjakan kaki di dunia ini. Padahal, perempuan tadi tampak masih sangat muda dan kemungkinan besar ibunya pun meninggal di usia yang jauh lebih belia dibandingkan dengan orangtua Pak Tono. Terkadang apa yang kita miliki baru terasa ketika cerminan pahitnya berdiri di depan kita.                                                                                                   Sumber: https://serupa.id/

Cerita Inspiratif "Belenggu Keyakinan"

                                                                       "Belenggu Keyakinan" 

 

Pada suatu hari yang cerah di sebuah kota, ada seorang pria yang berencana pergi ke tempat pertunjukan sirkus dengan membawa keluarganya. Niatnya sederhana, ingin memberikan hiburan kepada keluarga di hari libur sekolah.

Sebelum sampai di tempat pertunjukan, pria tersebut melewati sebuah perkemahan dengan tenda yang berukuran besar. Di dalam tenda tersebut terdapat gajah-gajah sirkus. Gajah-gajah dengan ukuran yang besar itu berdiri melamun dengan kondisi kaki yang diikat oleh rantai kecil.

Tidak ada pagar yang menghalangi mereka, setiap gajah hanya diikat dengan rantau kecil di salah satu kakinya dan tidak ada yang berusaha untuk kabur, semuanya terdiam. Sepanjang perjalanan, pria tersebut terus memandangi gajah-gajah tersebut dengan mimik wajah yang kebingungan. Mengapa?

Pria tersebut berpikir, mengapa sang gajah dengan ukuran yang besar itu tidak menggunakan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk memutuskan rantai kecil yang mengikat salah satu kakinya, kemudian lari dari perkemahan tersebut.

Namun sebaliknya, setiap gajah hanya berdiri diam tidak melakukan perlawanan apapun. Dengan wajah yang masih kebingungan, pria itu menghampiri sang Pawang yang dari tadi juga berdiri di sekitar perkemahan gajah itu.

Pria tersebut bertanya “Mengapa para gajah itu hanya terdiam dan tidak berusaha untuk kabur padahal hanya diikat dengan rantai kecil di salah satu kakinya?” Sang Pawang tersenyum kemudian menjawab, “Ketika masih sangat muda dan berukuran jauh lebih kecil dari sekarang kami menggunakan rantai dengan ukuran yang sama untuk mengikat mereka, dan pada usia itu cukup untuk menahan mereka.”

Seiring mereka tumbuh dewasa, mereka dikondisikan untuk percaya bahwa mereka tidak dapat melepaskan diri. Karena sampai sekarang mereka masih percaya bahwa rantai masih bisa menahan mereka, sehingga mereka tidak pernah mencoba membebaskan diri.

Sumber: https://www.ilmubindo.com/

Suatu Sisi dalam Hidupmu

  Cerpen Suatu Sisi Dalam Hidupmu Karya Andriani   Siang ini begitu teriknya, matahari bersinar tak ada kompromi, menyengat dan membak...